Secara geografis, letak KPPN Wamena bisa dikatakan KPPN
tertinggi di Indonesia karena berada di ketinggian 1.756 dpl di pegunungan
tengah papua. Suhu udara cukup ekstrem jika dirasakan oleh pendatang, karena
suhu pada malam hari bisa mencapai 13-15 derajat C dan siang hari sekitar 19-22
derajat C. Disamping suhu udara yang dingin, curah hujan di Wamena juga cukup
tinggi hampir setiap hari ada hujan dan tidak mengenal musim.
Untuk mencapai KPPN Wamena, menggunakan sarana tranportasi udara,
berangkat dari Bandara Sentani (Jayapura) ke Wamena yang memakan waktu kurang
lebih 45 menit. Kalau cuaca buruk, waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi karena
harus menunggu cuaca normal kembali.
Jenis pesawat yang akan menerbangkan ke Wamena adalah
pesawat jenis ATR yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan Trigana. Sehari
flight penerbangan Wamena-Sentani bisa 3-4 kali tergantung cuaca.
Lokasi KPPN Wamena tidak jauh dari bandara wamena, kurang
lebih 1,5 km terletak di jalan Yos Sudarso Nomor 26 Wamena, atau tepatnya pada
138,943” BT dan 4,097”LS.
wamena terletak di lembah baliem, berupa tanah datar yang sangat luas yang dikelilingi oleh pegunungan berbatu. tanahnya sangat subur meskipun di dalamnya adalah batu. makanan penduduk asli adalah hipere (ketela rambat) meskipun sekarang mereka sudah mulai mengenal beras dan banyak dari mereka yang menjual hasil panen berupa sayuran ke kota untuk dibelikan beras.
pada awalnya penduduk asli tidak mengenal cara memasak kecuali dengan bakar batu. cara memasak dengan bakar batu yaitu dengan membakar bongkahan batu sebesar jeruk bali atau lebih kecil dari itu selama kurang lebih 2 jam atau lebih. membakar batu ini dengan menggunakan kayu dan jerami atau dedaunan yang sudah kering. setelah selesai, mereka menata batu tersebut di sebuah lubang yang menyerupai setengah bola dengan diameter sekitar 1,5 meter dan kedalaman sekitar setengahnya.
mereka menata batu tersebut secara merata di permukaan lubangn tersebut dengan menggunakan bambu yang ujungnya dibelah dua untuk menjepit batu yang panas itu. mereka menempatkan daging dan sayur serta hipere di tengah-tengah batu panas secara selang seling. tidak ada bumbu yang digunakan. setelah daging dan sayuran tersusun, mereka tunggu sekitar 2 jam atau lebih sesuai perkiraan mereka. jika sudah masak mereka makan bersama-sama.
Budaya di pegunungan papua masih terjaga dibandingkan di daerah pantai. di wamena sendiri masih dijumpai beberapa orang yang berkeliling kota wamena dengan hanya memakai koteka saja. kadang mereka memakai jaket dan koteka. pemandangan yang tidak akan dijumpai di daerah pantai.
di wamena sendiri yaitu di distrik kurulu yang tidak begitu jauh dari kota, ada mumi dari kepala suku yang sudah mangkat. di wamena juga ada festival perang yang diadakan setiap tahun dan masih terjaga hingga sekarang. karena itu dikatakan belum ke papua kalau belum ke wamena.
0 komentar:
Posting Komentar